Selasa, 15 Januari 2013

ARAB PRA ISLAM (4)

Tak  ada yang dikenal  dunia tentang negeri-negeri Arab itu selain Yaman dan tetangga-
tetangga-nya yang  berbatasan  dengan Teluk  Persia.  Hal  ini bukan  karena  hanya 
disebabkan oleh adanya perbatasan Teluk Persia dan  Samudera  Indonesia  saja, tetapi  
lebih-lebih  disebabkan oleh -tidak  seperti jazirah-jazirah lain-gurun sahara yang tandus.   
Dunia  tidak tertarik,  negara  yang akan  bersahabatpun tidak merasa akan mendapat   
keuntungan  dan  pihak  penjajah  juga  tidak punya kepentingan.  Sebaliknya,  daerah   
Yaman tanahnya subur, hujan turun secara teratur pada setiap  musim.  Ia  menjadi  negeri 
peradaban   yang   kuat,  dengan  kota-kota  yang  makmur  dan tempat-tempat 
beribadat yang  kuat  sepanjang  masa.  Penduduk jazirah ini terdiri dari suku bangsa
Himyar, suatu suku bangsa yang cerdas dan berpengetahuan luas. Air hujan yang  
menyirami bumi ini mengalir habis menyusuri tanah terjal sampai ke laut. Mereka mem-
buat Bendungan Ma'rib yang dapat menampung arus  air hujan sesuai dengan syarat-
syarat peradaban yang berlaku.
 
Sebelum  dibangunnya  bendungan  ini, air hujan yang deras terjun dari pegunungan 
Yaman yang tinggi-tinggi itu,  menyusur turun  ke  lembah-lembah  yang  terletak di 
sebelah timur kota Ma'rib. Mula-mula  air  turun  melalui  celah-celah  dua  buah gunung 
yang terletak di kanan-kiri lembah ini, memisahkan satu sama lain seluas kira-kira 400 
meter. Apabila sudah sampai  di Ma'rib air itu menyebar ke dalam lembah demikian 
rupa sehingga hilang terserap seperti  di  bendungan-bendungan  Hulu  Sungai Nil.   
Berkat pengetahuan dan kecerdasan yang ada pada penduduk Yaman itu, mereka 
membangun sebuah bendungan, yaitu  Bendungan Ma'rib.  Bendungan  ini dibangun 
dari batu di ujung lembah yang sempit,  lalu  dibuatnya  celah-celah  guna  memungkin-
kan adanya  distribusi  air ke tempat-tempat yang mereka kehendaki dan dengan 
demikian tanah mereka bertambah subur.
 
Peninggalan-peninggalan peradaban Himyar di Yaman yang  pernah diselidiki -dan  
sampai  sekarang  penyelidikan  itu  masih diteruskan -menunjukkan, bahwa per-
adaban  mereka  pada  suatu saat  memang  telah  mencapai tingkat yang tinggi 
sekali, juga sejarahpun  menunjukkan bahwa  Yaman  pernah  pula  mengalami 
bencana.
 
Sungguhpun  begitu  peradaban  yang  dihasilkan dari kesuburan negerinya serta 
penduduknya yang menetap menimbulkan  gangguan juga dalam lingkungan jazirah 
itu. Raja-raja Yaman kadang dari keluarga Himyar yang sudah  turun-temurun,   
kadang  juga dari kalangan  rakyat Himyar sampai pada waktu Dhu Nuwas al-Himyari 
berkuasa. Dhu Nuwas sendiri condong sekali kepada agama  Musa (Yudaisma),  dan 
tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa bangsanya.  Ia  belajar   
agama  ini  dari  orang-orang Yahudi yang pindah dan menetap di Yaman. Dhu Nuwas
inilah yang disebut-sebut oleh  ahli-ahli  sejarah,  yang  termasuk  dalam kisah   "orang-
orang  yang  membuat  parit,"  dan  menyebabkan turunnya  ayat:  "Binasalah  orang-
orang  yang telah  membuat parit.  Api  yang  penuh  bahan  bakar. Ketika mereka 
duduk di tempat itu. Dan apa yang  dilakukan  orang-orang  beriman  itu mereka   
menyaksikan.  Mereka  menyiksa  orang-orang  itu hanya karena  mereka  beriman   
kepada  Allah  Yang  Maha  Mulia  dan Terpuji." (Qur'an 85:4-8)
 
Cerita  ini  ringkasnya  ialah bahwa ada seorang pengikut Nabi Isa yang saleh bernama  
Phemion telah  pindah  dari  Kerajaan Rumawi  ke Najran. Karena orang ini baik sekali, 
penduduk kota itu banyak yang mengikuti  jejaknya,  sehingga  jumlah  mereka makin 
lama  makin  bertambah  juga. Setelah berita itu sampai kepada Dhu Nuwas, ia pergi ke   
Najran  dan  dimintanya  kepada penduduk  supaya  mereka  masuk agama Yahudi, 
kalau tidak akan dibunuh. Karena mereka menolak, maka  digalilah  sebuah  parit dan 
dipasang api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam parit itu dan yang tidak mati 
karena api, dibunuhnya kemudian dengan pedang  atau dibikin  cacat.  Menurut bebe-
rapa  buku sejarah korban pembunuhan itu  mencapai  duapuluh  ribu orang. Salah
seorang di antaranya dapat lolos dari maut dan dari tangan Dhu Nuwas,  ia  lari  ke   
Rumawi  dan  meminta   bantuan  Kaisar Yustinianus  atas  perbuatan  Dhu Nuwas itu. 
Oleh karena letak Kerajaan Rumawi ini jauh dari Yaman, Kaisar itu menulis  surat kepada   
Najasyi  (Negus) supaya mengadakan pembalasan terhadap raja Yaman. Pada waktu 
itu [abad ke-6] Abisinia yang dipimpin oleh   Najasyi   sedang   berada  dalam  puncak   
kemegahannya. Perdagangan yang luas melalui laut disertai oleh  armada  yang kuat2   
dapat  menancapkan  pengaruhnya  sampai sejauh-jauhnya. Pada waktu itu ia menjadi 
sekutu  Imperium  Rumawi  Timur  dan yang  memegang  panji Kristen  di Laut Merah, 
sedang Kerajaan Rumawi Timur sendiri menguasainya di bagian Laut Tengah.

Setelah surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia  mengirimkan bersama  orang  Yaman  
itu  -  yang membawa surat - sepasukan tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan 
Abraha  al-Asyram salah  seorang prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas 
nama penguasa Abisinia. Ia memerintah  Yaman  ini  sampai  ia dibunuh  oleh  Abraha 
yang kemudian menggantikan kedudukannya. Abraha inilah  yang  memimpin  pasukan   
gajah,  dan  dia  yang kemudian  menyerbu Mekah guna  menghancurkan Ka'bah tetapi 
gagal, seperti yang akan terlihat nanti dalam pasal berikut.
 
Anak-anak Abraha  kemudian  menguasai  Yaman  dengan  tindakan sewenang-
wenang.  Melihat bencana  yang  begitu  lama menimpa penduduk, Saif bin Dhi Yazan   
pergi  hendak menemui Maharaja Rumawi.  Ia mengadukan hal itu kepadanya dan 
memintanya supaya mengirimkan penguasa lain dan Rumawi ke Yaman.  Tetapi  karena 
adanya perjanjian persekutuan antara Kaisar Yustinianus dengan Najasyi tidak mungkin ia 
dapat memenuhi  permintaan  Saif  bin Dhi  Yazan  itu. Oleh karena itu Saif meninggalkan 
Kaisar dan pergi  menemui  Nu'man  bin'l-Mundhir  selaku Gubernur   yang diangkat oleh 
Kisra untuk daerah Hira dan sekitarnya di Irak.3
 
Nu'man  dan Saif  bin Dhi Yazan bersama-sama datang menghadap Kisra Parvez. Waktu 
itu ia sedang duduk dalam Ruangan  Resepsi (Iwan Kisra) yang megah dihiasi oleh lukisan-
lukisan bimasakti pada bagian tahta itu. Di tempat musim  dinginnya  bagian  ini dikelilingi   
dengan  tabir-tabir dari bulu binatang yang mewah sekali. Di tengah-tengah itu bergan-
tungan  lampu-lampu  kendil terbuat  daripada  perak  dan  emas dan diisi penuh dengan 
air tawar. Di atas tahta itulah  terletak mahkotanya  yang besar berhiaskan  batu delima, 
kristal dan mutiara bertali emas dan perak, tergantung dengan rantai dari  emas pula. Ia  
sendiri memakai pakaian serba emas. Setiap orang yang memasuki tempat itu akan me-
rasa terpesona  oleh  kemegahannya.  Demikian  juga halnya dengan Saif bin Dhi Yazan.
 
Kisra   menanyakan   maksud   kedatangannya  itu  dan  Saifpun bercerita tentang ke-
kejaman Abisinia di Yaman. Sungguhpun pada mulanya Kisra Parvez ragu-ragu, tetapi 
kemudian ia mengirimkan juga pasukannya di bawah pimpinan Wahraz (Syahrvaraz?),   
salah seorang  keluarga ningrat  Persia  yang paling berani. Persia telah  mendapat   
kemenangan  dan  orang-orang  Abisinia dapat diusir dari Yaman yang sudah diduduki-
nya selama 72 tahun itu.
 
Sejak  itulah  Yaman  berada di bawah  kekuasaan Persia, dan ketika Islam  lahir seluruh   
daerah  Arab  itu  berada  dalam naungan agama baru ini.
 

ARAB PRA ISLAM (6)

Kota-kota  seperti  Mekah, Ta'if, Yathrib dan yang sejenis itu seperti wahah-wahah (oase) 
yang terserak di celah-celah gunung atau gurun  pasir,  terpengaruh   juga  oleh  sifat-sifat 
pengembaraan demikian  itu.  Dalam  susunan   kabilah  serta cabang-cabangnya,   
perangai   hidup,   adat-istiadat serta kebenciannya terhadap segala yang membatasi 
kebebasannya lebih dekat kepada cara hidup pedalaman daripada kepada cara-cara 
di kota, sekalipun mereka dipaksa oleh sesuatu cara hidup yang menetap, yang tentunya 
tidak sama dengan cara-hidup pedalaman. Dalam pembicaraan tentang Mekah dan 
Yathrib pada pasal berikut ini akan terlihat agak lebih terperinci.
 
Lingkungan  masyarakat  dalam  alam demikian ini serta keadaan moral, politik dan
sosial  yang  ada  pada  mereka,  mempunyai pengaruh   yang   sama   terhadap  cara   
beragamanya.  Melihat hubungannya dengan agama Kristen  Rumawi  dan  Majusi   
Persia, adakah  Yaman dapat terpengaruh oleh  kedua  agama  itu dan sekaligus 
mempengaruhi kedua agama tersebut di jazirah  Arab lainnya?  Ini juga yang terlintas 
dalam pikiran kita, terutama mengenai agama Kristen. Misi Kristen yang ada  pada   
masa  itu sama  giatnya seperti  yang  sekarang  dalam mempropagandakan agama. 
Pengaruh pengertian agama dalam jiwa serta  cara  hidup kaum  pengembara tidak 
sama dengan orang kota. Dalam kehidupan kaum pengembara manusia berhubungan 
dengan alam, ia  merasakan adanya wujud  yang  tak  terbatas  dalam segala bentuk-
nya. Ia merasa perlu mengatur suatu cara hidup antara  dirinya  dengan alam dengan   
ketakterbatasannya  itu. Sedang bagi orang kota ketak-terbatasan  itu sudah tertutup  
oleh  kesibukannya hari-hari,  oleh adanya  perlindungan  masyarakat terhadap dirinya   
sebagai  imbalan  atas  kebebasannya  yang diberikan sebagian kepada masyarakat, 
serta kesediaannya tunduk kepada undang-undang  penguasa supaya  memperoleh  
jaminan  dan  hak perlindungan. Hal  ini  menyebabkannya  tidak merasa  perlu berhu-
bungan dengan yang di luar penguasa itu, dengan  kekuatan alam  yang begitu dah-
syat terhadap kehidupan manusia. Hubungan jiwa dengan  unsur-unsur alam yang  di  
sekitarnya jadi berkurang.
 
Dalam  keadaan serupa ini, apakah yang telah diperoleh Kristen dengan kegiatannya 
yang begitu besar sejak abad-abad permulaan dalam  menyebarkan  ajaran  agamanya 
itu?  Barangkali soalnya hanya akan sampai di  situ  saja  kalau  tidak  karena  adanya 
soal-soal   lain  yang   menyebabkan  negeri-negeri  Arab  itu, termasuk  Yaman,   tetap    
bertahan  pada  paganisma  agama nenek-moyangnya,  dan  hanya  beberapa kabilah   
saja yang mau menerima agama Kristen.
 
Manifestasi peradaban dunia yang paling jelas pada masa itu  - seperti  yang  sudah  kita 
saksikan - berpusat di sekitar Laut Tengah  dan  Laut  Merah.  Agama-agama  Kristen    
dan  Yahudi bertetangga  begitu  dekat  sekitar tempat itu. Kalau keduanya tidak  mem-
perlihatkan permusuhan yang  berarti,  juga  tidak memperlihatkan  persahabatan  yang   
berarti  pula. Orang-orang Yahudi masa itu dan sampai sekarang juga masih menyebut-
nyebut adanya  pembangkangan  dan  perlawanan  Nabi  Isa kepada agama mereka. 
Dengan diam-diam mereka bekerja  mau membendung  arus agama  Kristen yang telah 
mengusir mereka dari Palestina, dan yang masih berlindung  dibawah  panji  Imperium   
Rumawi  yang membentang luas itu.

Orang-orang   Yahudi  di  negeri-negeri  Arab  merupakan  kaum imigran yang besar, ke-
banyakan mereka  tinggal  di  Yaman  dan Yathrib.  Di  samping  itu  kemudian  agama 
Majusi (Mazdaisma) Persia tegak menghadapi arus  kekuatan  Kristen  supaya  tidak 
sampai  menyeberangi Furat (Euphrates) ke Persia, dan kekuatan moril demikian itu di-
dukung oleh  keadaan  paganisma  di  mana saja  ia  berada. Jatuhnya Rumawi dan 
hilangnya kekuasaan yang di tangannya, ialah sesudah pindahnya  pusat  peradaban   
dunia itu ke Bizantium.
 
Gejala-gejala  kemunduran berikutnya ialah bertambah banyaknya sekta-sekta Kristen 
yang sampai menimbulkan  pertentangan  dan peperangan antara sesama mereka. Ini 
membawa akibat merosotnya martabat iman yang tinggi ke dalam kancah  perdebatan   
tentang bentuk  dan ucapan,  tentang  sampai di mana kesucian Mariam: adakah ia yang
lebih utama dari anaknya Isa Almasih atau  anak yang  lebih  utama dari ibu - suatu per-
debatan yang terjadi di mana-mana, suatu pertanda yang akan membawa  akibat han-
curnya apa yang sudah biasa berlaku.
 
Ini  tentu  disebabkan  oleh karena isi dibuang dan kulit yang diambil, dan terus menimbun 
kulit itu  di  atas  isi  sehingga akhirnya  mustahil  sekali  orang  akan dapat melihat isi atau 
akan menembusi timbunan kulit itu.
 
Apa yang telah menjadi pokok  perdebatan  kaum  Nasrani  Syam, lain  lagi dengan yang 
menjadi perdebatan kaum Nasrani di Hira dan Abisinia. Dan orang-orang Yahudipun,   
melihat  hubungannya dengan  orang-orang Nasrani,  tidak akan berusaha mengurangi 
atau menenteramkan perdebatan semacam  itu. Oleh karena itu sudah wajar pula orang-
orang Arab yang berhubungan dengan kaum Nasrani Syam dan Yaman dalam  perjalan-
an  mereka pada  musim dingin atau  musim panas atau dengan orang-orang Nasrani 
yang datang dari Abisinia, tetap tidak akan sudi memihak salah satu di  antara golongan-
golongan  itu.  Mereka  sudah puas dengan kehidupan agama berhala yang  ada  pada   
mereka  sejak  mereka dilahirkan, mengikuti cara hidup nenek-moyang mereka.
 
Oleh  karena  itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur di kalangan mereka, 
sehingga pengaruh demikian  inipun  sampai kepada  tetangga-tetangga  mereka yang   
beragama  Kristen  di Najran  dan  agama  Yahudi  di  Yathrib,  yang  pada   mulanya 
memberikan  kelonggaran  kepada  mereka,  kemudian   turut menerimanya. Hubung-
an  mereka  dengan  orang-orang  Arab yang menyembah  berhala  untuk  mendekat-
kan  diri  kepada Tuhan itu baik-baik saja. Yang menyebabkan orang-orang  Arab  itu 
tetap  bertahan  pada paganismanya  bukan  saja  karena  ada  pertentangan di antara
golongan-golongan Kristen.  Kepercayaan  paganisma  itu  masih tetap hidup  di  kalangan  
bangsa-bangsa  yang sudah menerima ajaran  Kristen.  Paganisma  Mesir dan  Yunani   
masih   tetap berpengaruh  ditengah-tengah  pelbagai  mazhab  yang  beraneka macam 
dan di  antara  pelbagai  sekta-sekta  Kristen  sendiri. Aliran   Alexandria   dan   filsafat   
Alexandria  masih  tetap berpengaruh,  meskipun  sudah  banyak  berkurang  dibanding-
kan dengan   masa  Ptolemies  dan  masa  permulaan  agama  Masehi. Bagaimanapun
juga pengaruh itu tetap merasuk ke  dalam  hati mereka.   Logikanya   yang  tampak   
cemerlang  sekalipun  pada dasarnya  masih bersifat  sofistik  -  dapat   juga   menarik 
kepercayaan   paganisma  yang  polytheistik, yang dengan kecintaannya itu dapat 
didekatkan kepada kekuasaan manusia.
 
Saya kira inilah yang lebih  kuat  mengikat  jiwa  yang  masih lemah itu pada paganisma, 
dalam setiap zaman, sampai saat kita sekarang ini. Jiwa  yang  lemah  itu  tidak  sanggup   
mencapai tingkat yang  lebih  tinggi,  jiwa yang akan menghubungkannya pada semesta 
alam sehingga ia dapat memahami  adanya  kesatuan yang menjelma dalam segala 
yang lebih tinggi, yang sublim dari semua yang ada dalam wujud ini,  menjelma  dalam   
Wujud Tuhan Yang  Maha  Esa. Kepercayaan demikian  itu hanya sampai pada suatu 
manifestasi alam saja  seperti matahari, bulan atau  api misalnya.  Lalu  tak  berdaya  lagi 
mencapai segala yang lebih tinggi, yang akan memperlihatkan adanya manifestasi alam 
dalam kesatuannya itu.
 
Bagi  jiwa  yang lemah ini cukup hanya dengan berhala saja. Ia akan membawa gambar-
an yang  masih  kabur  dan  rendah  tentang pengertian  wujud  dan  kesatuannya.   
Dalam hubungannya dengan berhala itu lalu dilengkapi lagi dengan segala gambaran 
kudus, yang  sampai  sekarang  masih  dapat  kita saksikan di seluruh dunia, sekalipun 
dunia yang mendakwakan dirinya  modern  dalam ilmu pengetahuan dan sudah maju 
pula dalam peradaban. Misalnya mereka yang pernah berziarah ke gereja Santa Petrus   
di  Roma, mereka  melihat  kaki  patung  Santa  Petrus yang didirikan di tempat  itu    
sudah   bergurat-gurat   karena   diciumi   oleh penganut-penganutnya,  sehingga  setiap   
waktu terpaksa gereja memperbaiki kembali mana-mana yang rusak.
 
Melihat semua itu kita dapat memaklumi. Mereka belum mendapat petunjuk  Tuhan   
kepada  iman  yang  sebenarnya Mereka melihat pertentangan-pertentangan kaum 
Kristen yang  menjadi  tetangga mereka  serta  cara-cara  hidup  paganisma yang masih 
ada pada mereka, di tengah-tengah mereka sendiri yang  masih  menyembah berhala  
itu  sebagai warisan dari nenek-moyang mereka. Betapa kita tak akan memaafkan 
mereka.  Situasi  demikian  ini  sudah begitu  berakar  di  seluruh  dunia, tak putus-putus-
nya sampai saat ini, dan saya kira memang  tidak  akan  pernah  berakhir. Kaum   
Muslimin  dewasa  inipun  membiarkan paganisma itu dalam agama mereka, agama 
yang datang  hendak  menghapus  paganisma, yang  datang  hendak  menghilangkan   
segala penyembahan kepada siapa saja selain kepada Allah Yang Maha Esa.
 
Cara-cara penyembahan  berhala  orang-orang  Arab  dahulu  itu banyak sekali macam-
nya. Bagi kita yang mengadakan penyelidikan dewasa ini sukar sekali akan dapat 
mengetahui  seluk-beluknya. Nabi  sendiri  telah  menghancurkan  berhala-berhala  itu   
dan menganjurkan  para  sahabat  menghancurkannya  di  mana   saja adanya.  Kaum   
Muslimin  sudah  tidak  lagi bicara tentang itu sesudah semua  yang  berhubungan  dengan   
pengaruh  itu  dalam sejarah  dan  lektur dihilangkan.  Tetapi apa yang disebutkan dalam 
Quran dan yang dibawa oleh ahli-ahli sejarah dalam abad kedua  Hijrah - sesudah kaum
Muslimin tidak lagi akan tergoda karenanya - menunjukkan, bahwa sebelum Islam   
paganisma  dalam bentuknya yang pelbagai macam,  mempunyai tempat yang tinggi.
 
Di    samping    itu    menunjukkan   pula   bahwa   kekudusan berhala-berhala itu berting-
kat-tingkat adanya. Setiap  kabilah atau  suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat 
penyembahan. Sesembahan-sesembahan zaman jahiliah inipun berbeda-beda  pula 
antara  sebutan  shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub. Shanam ialah dalam 
bentuk manusia dibuat dari logam atau kayu, Wathan  demikian  juga  dibuat dari batu,
sedang nushub adalah batu karang tanpa suatu  bentuk  tertentu.  Beberapa  kabilah 
melakukan    cara-cara   ibadahnya   sendiri-sendiri.  Mereka beranggapan batu  karang   
itu  berasal  dari  langit  meskipun agaknya  itu adalah batu kawah atau yang serupa itu. 
Di antara berhala-berhala yang baik buatannya agaknya yang berasal  dari Yaman. Hal   
ini tidak mengherankan. Kemajuan peradaban mereka tidak dikenal di Hijaz, Najd atau   
di  Kinda.  Sayang  sekali, buku-buku   tentang   berhala   ini  tidak  melukiskan secara ter-
perinci bentuk-bentuk berhala itu,  kecuali  tentang  Hubal yang  dibuat  dari  batu  akik 
dalam bentuk manusia, dan bahwa lengannya pernah rusak dan oleh  orang-orang  
Quraisy diganti dengan  lengan dari emas. Hubal ini ialah dewa orang Arab yang paling 
besar dan diletakkan dalam Ka'bah di Mekah. Orang-orang dari semua penjuru jazirah 
datang berziarah ke tempat itu.
 
Tidak   cukup  dengan  berhala-berhala  besar  itu  saja  buat orang-orang Arab guna 
menyampaikan sembahyang  dan  memberikan kurban-kurban,  tetapi  kebanyakan   
mereka  itu mempunyai pula patung-patung dan berhala-berhala dalam  rumah   
masing-masing. Mereka  mengelilingi  patungnya  itu  ketika  akan keluar atau sesudah 
kembali pulang, dan dibawanya  pula  dalam perjalanan bila  patung  itu  mengijinkan 
ia bepergian. Semua patung itu, baik yang ada dalam Ka'bah  atau  yang  ada  di seke-
lilingnya, begitu  juga  yang  ada  di  semua  penjuru  negeri  Arab atau kabilah-kabilah 
dianggap sebagai perantara antara  penganutnya dengan  dewa  besar.  Mereka ber-
anggapan penyembahannya kepada dewa-dewa itu sebagai pendekatan kepada   
Tuhan  dan  menyembah kepada  Tuhan  sudah  mereka  lupakan  karena  telah 
menyembah berhala-berhala itu.
 
Meskipun Yaman  mempunyai  peradaban  yang  paling  tinggi  di antara  seluruh  jazirah   
Arab, yang disebabkan oleh kesuburan negerinya serta pengaturan pengairannya yang   
baik,  namun ia tidak   menjadi  pusat  perhatian  negeri-negeri  sahara  yang terbentang 
luas  itu,  juga  tidak menjadi  pusat  keagamaan mereka.  Tetapi  yang menjadi pusat 
adalah Mekah dengan Ka'bah sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang berkunjung dan   
ke tempat  itu  pula  orang  melepaskan pandang. Bulan-bulan suci sangat dipelihara me-
lebihi tempat lain.
 
Oleh karena itu, dan sebagai markas perdagangan  jazirah  Arab yang istimewa, Mekah 
dianggap sebagai ibukota seluruh jazirah. Kemudian takdirpun menghendaki pula ia men-
jadi tanah kelahiran Nabi   Muhammad,   dan  dengan  demikian  ia  menjadi  sasaran 
pandangan dunia sepanjang zaman. Ka'bah  tetap  disucikan  dan suku  Quraisy masih 
menempati kedudukan yang tinggi, sekalipun mereka semua tetap sebagai orang-orang 
Badwi yang kasar  sejak berabad-abad lamanya.
 
Catatan kaki: 
 1 Dikutip oleh Sir Muir dalam The Life of Mohammad, p.xc.   
 2 Cerita demikian terdapat dalam beberapa buku sejarah.   Encylopedia Britannica juga 
    menyebutnya, dan dikutip oleh   penulis-penulis buku Historian's History of the World 
    dan juga dijadikan pegangan oleh Emile Derminghem dalam la Vie de Mahomet. Akan 
    tetapi At-Tabari menceritakan melalui Hisyam ibn  Muhammad bahwa setelah orang 
    Yaman itu pergi meminta bantuan   Najasyi atas perbuatan Dhu Nuwas serta menjelas-
    kan apa yang telah dilakukannya terhadap orang-orang Kristen oleh pembela  agama 
    Yahudi itu dan memperlihatkan sebuah Injil yang sudah  sebagian dimakan api, Najasyi 
    berkata: "Tenaga manusia di sini   banyak, tapi aku tidak punya kapal. Sekarang aku 
    menulis surat  kepada Kaisar supaya mengirimkan kapal dan dengan itu akan  kukirim-
    kan pasukanku." Lalu ia menulis surat kepada Kaisar dengan melampirkan Injil yang 
    sudah terbakar. Dan menambahkan: "Hisyam ibn Muhammad menduga, bahwa 
    setelah kapal-kapal itu   sampai ke tempat Najasyi, pasukannyapun dinaikkan dan  
    berangkat ke pantai Mandab." Lihat Tarikh't-Tabari cetakan   Al-Husainia, vol. 2, p. 106 
    dan 108.   
 3 Beberapa keterangan dalam buku-buku sejarah berbeda-beda  tentang sebab 
    penyerbuan Abisinia (Habasya) ini ke Yaman.   Keterangan itu mengatakan, bahwa 
    hubungan dagang antara Arab   Musta'riba di Hijaz dengan Yaman dan Abisinia terus    
    berlangsung. Pada waktu itu pantai-pantai Habasya membentang   sepanjang Laut 
    Merah lengkap dengan armada perdagangannya.   Karena kekayaan dan kesuburan-
    nya, Kerajaan Rumawi ingin sekali  menguasai Yaman. Aelius Galius penguasa (prefek) 
    Kaisar Rumawi  di Mesir mengadakan persiapan. akan menyerbu Yaman. Pasukannya    
    dikerahkan menyeberangi Laut Merah ke Yaman dan juga menyerang   Najran. Tetapi 
    karena adanya penyakit yang menyerang mereka.  Orang-orang Yaman mudah sekali 
    mengusir mereka itu dan  merekapun kembali ke Mesir. Sesudah itupun Rumaw├Á ber-
    turut-turut menyerang jazirah Arab di Yaman dan di luar Yaman, tapi kenyataannya 
    tidak lebih menguntungkan dan yang   pernah dilakukan oleh Galius. Saat itu Najasyi di 
    Abisinia   merasa perlu mengadakan pembalasan terhadap Yaman yang telah  me-
    maksakan agama Yahudi terhadap orang-orang Rumawi yang   beragama Kristen. 
    Pasukan Aryat dikerahkan menyerbu Yaman dan   berkuasa di tempat itu sampai 
    pada waktu Persia datang   mengusir mereka.